Jadwal Imsakiyah dan Buka Puasa Ramadhan 1442 H 2021 M Hari Ini

Jadwal Imsakiyah dan Buka Puasa Ramadhan 1442 H 2021 M Hari Ini
Cari Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1442 H 2021 M Hari Ini Untuk Seluruh Wilayah Provinsi Daerah di Indonesia, Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1442 H 2021 M, Jadwal imsakiyah, Sahur, Buka Puasa & waktu shalat untuk seluruh wilayah provinsi daerah di indonesia.

Bulan suci Ramadhan yg di nanti-nanti seluruh lapisan masyarakat muslim di Indonesia serta dunia menyambut kedatangan bulan yg penuh berkah ini. Dengan segenap kegembiraan serta suka cita mari bersama menyiapkan keadaan jiwa serta raga sebaik mungkin. Keceriaan wajah serta jiwa coba ditampakkan sebab berharap untuk berjumpa dengan “syahru Ramadhan wa syahru syiam” yang berlimpah berkah. Keniscayaan amaliyah dengan amal shalih, semacam berdzikir, shalat tarawih, tadarus Al-Quran, memperbanyak sedekah, salawat serta lainnya.

Bulan istimewa, bulan Ramadhan, bulan yg dilipat gandakanya pahala amal-amal kebaikan dan bulan yg penuh rahmat beserta maghfiroh dari Allah subbhanahu waa ta’ala. Selain itu, bulan Ramadhan yakni bulan membendung diri. menangkal dari makan, minum, jimak (bersetubuh antara suami istri) beserta menangani nafsu sesuai dengan syariat Islam, mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat menjalankan perintah dari Allah yang dilandasi dengan keimanan. Berikut adalah keutamaan bulan suci Ramadhan:

Bulan Ramadhan Bulan Diturunkannya Al Qur’an
Ramadhan adalah bulan diturunkannya permulaan Al Quran sebagai petunjuk manusia. Keterangan ini dijelaskan di dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 185, yg berbunyi sebagai berikut:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran, yang bertujuan sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dengan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara mereka yang menyaksikan (berada) di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa) maka wajib menggantinya sebanyak hari yang ditinggalkan itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu sekalian bersyukur. )Surat Al Baqarah: 185).

Bulan dibukanya Pintu Surga dan ditutupnya Pintu Neraka
Diceritakan di dalam hadis Rasulullah SAW, dari Abu Hurairah riwayat Imam Bukhori mengenai keutamaan bulan Ramadhan yg penuh berkah ini. Sebagaimana keterangan di dalam kitab Shahih Bukhori juz 3 halaman 32, yg berbunyi sebagai berikut:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ – وَهُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ – عَنْ أَبِى سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

Artinya: “Apabila datang bulan Ramadhan maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan yang jahat dibelenggu.” (HR. Bukhori).

Dalam redaksi kitab yg lain, hadis yang diceritakan dari Abu Hurairah, riwayat yg dijelaskan didalam kitab Sunan at Turmudzi halaman 682, yang berbunyi sebagai berikut:

حدثنا أبو كريب محمد بن العلاء بن كريب حدثنا أبو بكر بن عياش عن الأعمش عن أبي صالح عن أبي هريرة :قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا كان أول ليلة من شهر رمضان صفدت الشياطين ومردة الجن وغلقت أبواب النار فلم يفتح منها باب وفتحت أبواب الجنة فلم يغلق منها باب وينادي مناد يا باغي الخير أقبل ويا باغي الشر أقصر ولله عتقاء من النار وذلك كل ليلة

Artinya: “Diceritakan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila datang awal malam dari bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin yang sangat jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup tidak ada satu pintupun yang terbuka, sedangkan pintu-pintu surga dibuka tidak ada satu pintupun ditutup.” Dan seorang penyeru menyerukan, ”Wahai orang-orang yang menginginkan kejelekan, tahanlah. Dan Allah memiliki orang-orang yang yang dibebaskan dari neraka, yang demikian itu yang terjadi setiap malam.” (HR. Turmudzi).

Bulan yang Penuh Berkah dan Pengampunan

Diceritakan dari Abu Hurairah dalam kitab Shahih Bukhori juz 1 halaman 283 tentang keutamaan bulan Ramadhan, yang berbunyi sebagai berikut:

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “Bahwa Nabi Muhammad bersabda, barang siapa yang menunaikan sholat di malam lailatul qadar dengan keimanan dan mengharap ridha Allah, maka Akan diampuni dosa-dosa yang terdahulu. Dan barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan keimanan dan mengharap ridha Allah, maka diampuni dosa-dosa yang terdahulu”. (HR. Bukhori).

Dalam redaksi kitab yang lain, diterangkan terhadap diturunkannya rahmat pada bula Ramadhan di dalam kitab al Ithafu Ahlu al Islam bi Khususiyyati as Syiam karangan Imam Ibnu Hajar al Haitami al Makki  halaman 46 beserta 51, yg berbunyi sebagai berikut:

وأخرج الطبراني وابن النجار عن عبادة بن الصامت : أتاكم شهر رمضان شهر بركة فيه خير ، ينزل الله فيه الرحمة ، و يحط فيه الخطايا، ويستجيب فيه الدعاء ، ويباهي بكم الملائكة ، فأدوا من أنفسكم خيرا فإن الشقي من حرم فيه رحمة الله عز وجل

Artinya: “Datang kepada kalian bulan Ramadhan sebuah bulan yang penuh keberkahan yang di dalam terdapat kebaikan, Allah telah menurunkan di bulan ini kerahmatan, menghapus beberapa kesalahan, terkabulnya sebuah doa, memamerkan dirimu sekalian kepada malaikat, maka lakukanlah kebaikan dari dirimu sekalian, sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang terhalang dari rahmat Allah.”

وأخرج عن الديلمي عن علي: إذا دخل شهر رمضان أمر الله حملة العرش أن يكفوا عن التسبيح ويشتغفروا لأمة محمد والمؤمنين

Artinya: “Apabila datang bulan Ramadhan, maka Allah memerintah khamalatul ‘arsy untuk berhenti bertasbih dan memintakan ampunan bagi umat Nabi Muhammad dan orang-orang mukmin.”

Dilipat Gandakan Pahala Pada Bulan Ramadhan

Rasulullah shallallah alaihi wa sallam bersabda :

 عمرة في رمضان تعدل حجة

Artinya: “Pahala umrah pada bulan Ramadhan menyamai pahala ibadah haji “ (HR. Bukhari dan Muslim ), Dalam riwayat Muslim disebutkan,“……..menyamai pahala ibadah haji bersamaku “

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Abu Bakr bin Abi Maryam mengatakan bahwa banyak guru-gurunya yang berkata, ‘Apabila telah tiba bulan Ramadhan maka perbanyaklah berinfaq, karena infaq di bulan Ramadhan dilipatgandakan bagaikan infaq di jalan Allah, dan tasbih di bulan Ramadhan lebih utama daripada tasbih di bulan yang lain”.

Di Bulan Ramadhan Ada Malam yang Lebih Baik dari 1000 Bulan

Seperti yang menjadi pengetahuan umum, bahwa di Bulan Ramadhan, ada malam yang lebih baik dari 1000 bulan, yaitu malam Lailatul Qadar. Dalam Al Qur’an menyebutkan malam ini dalam surat Al Qadr ayat 1-5 yang berbunyi:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ(١) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (٢) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (٣) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (٤) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (٥

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr: 1-5).

Doa di Bulan Ramadhan Mustajabah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ

Artinya: ”Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan, dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan.” (HR. al Bazaar, dari Jabir bin ‘Abdillah. Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid (10/149) mengatakan bahwa perowinya tsiqoh (terpercaya). Lihat Jaami’ul Ahadis, 9/224).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizholimi”. (HR. At Tirmidzi no. 3598. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini hasan)

Syaikh Abu Zakariyah Yahya bin Syaraf an Nawawi ad Dimasqi dalam kitabnya al Majmu Syarhu al Muhadzab juz 6 halaman 375, menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan kesunnahan doa itu bagi orang yang berpuasa (semua jenis puasa) dari awal puasa hingga akhir. Syaikh an Nawawi juga mengatakan dalam kitab yang sama bahwa disunnahkan bagi orang yang berpuasa ketika ia dalam keadaan berpuasa untuk berdoa demi keperluan akhirat dan dunianya, dan pada perkara yang ia sukai. Beliau juga mengingatkan agar tidak lupa mendoakan kaum muslimin lainnya.

Bulan yang Mengajarkan Sabar dan Meningkatkan Ketakwaan
Puasa, khususnya di Bulan Ramadhan, mengajarkan bagaimana sabar dalam menahan makan, minum, dan hawa nafsu. Kesabaran itulah yang menuntun pada peningkatan ketakwaan dan penghambaan diri kepada Allah dan membebaskan hati dari penyakit-penyakit hati yang bisa menurunkan ketakwaan. Hal itu sesuai dengan kalam Allah dalam surat al Baqarah ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (QS. al Baqarah: 183).

Demikian adalah beberapa keutamaan Bulan Ramadhan. Semoga kita diberikan kekuatan oleh dalam menjalankan ibadah di bulan suci ini dengan konsisten dan berkelanjutan, agar mendapatkan rahmat, berkah, dan pengampunan Allah. Selamat beribadah! Semoga artikel ini bermanfaat. Wallahu a’lam bi ash Shawab.

Silahkan Download Jadwal Imsakiyah Puasa Ramadhan Hari Ini Disini.

Rukun beserta Sunnah Puasa Ramadhan

Setelah syarat wajib puasa Ramadhan sudah terpenuhi, kamu harus melaksanakan rukun puasa sebagai berikut:

1. Niat

Niat beserta doa di bulan Ramadhan merupakan tahapan berarti di dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Niat dikerjakan sebelum menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Niat doa puasa Ramadhan diucapkan sebelum fajar tiba. sebagian hadist menjabarkan juga bahwa niat dapat diucapkan malam harinya sebelum sahur ataupun setelah sholat tarawih.

2. mencegah diri dari acara makan, minum, bersetubuh, atau hal-hal lain yang membatalkan puasa.

Hal yang Sunnah Ketika Berpuasa

Selain pengertian puasa Ramadhan, syarat, hingga rukunnya, kamu juga harus memahami sunnah-sunnah puasa Ramadhan agar amalan ibadahmu semakin besar. Berikut sejumlah sunnah puasa Ramadhan.

1. Sahur

Sahur (bahasa Arab: سحور), juga disebut Sehur, Sehri, Sahari beserta Suhoor didalam bahasa lain, yaitu suatu kata Islam yg merujuk kepada kegiatan makan oleh umat Islam yg dikerjakan pada dini hari bagi yang akan menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadan. Sahur sebagai makan pagi tepat dengan Iftar sebagai makan malam, selama Ramadhan, menggantikan makan tiga kali sehari (sarapan, makan siang serta makan malam), walaupun di sejumlah area makan malam juga dikonsumsi setelah Iftar kemudian pada malam hari.

Banyak orang yg masih bingung mengenai makna imsak. Apakah masih boleh makan saat telah imsak? kaya dikenal, waktu imsak yakni 10 menit sebelum azan subuh berkumandang. Imsak umum dilazimkan oleh muazin di masjid untuk memperingatkan muslim yang sedang sahur. Lantas, apa memang makna imsak? Imsak umum dimaknai sebagai peringatan waktu makan beserta minum saat sahur bagi orang yang berpuasa.

Lalu, bagaimana sekiranya orang yang berpuasa masih sahur ataupun baru bangun saat imsak? Bolehkah dia melanjutkan sahurnya?

Imsak diibaratkan sebagai lampu kuning. “Imsak itu artinya lampu kuning. Kalau bangunnya pas Imsak, sebab lembur, lelah bekerja, apakah tak boleh makan? Boleh saja. akan tetapi kalau telah azan, masih tersedia makanan di mulut, muntahkan," katanya.

Jika ditelan saat waktu azan, maka hukumnya haram beserta puasanya batal. Sebab, batas waktu sahur sampai terbitnya fajar maupun azan subuh berkumandang. “Makan beserta minumlah sampai terbit fajar. Kalau telah azan subuh, tersedia yg masih dikunyah, muntahkan.

Para ulama benar-benar bijak dengan memutuskan waktu imsak 10 menit sebelum subuh. Hal itu bisa dibuktikan pada jadwal imsakiyah resmi yang beredar, selisih waktu yg tertera antara imsak serta subuh ialah 10 menit. Kebijaksanaan tersebut untuk menyerahkan masa transisi dari sahur berangkat saat imsak yg memang maupun subuh.

Ada kalanya pengingat sahur dari masjid terdekat tak terdengar, maupun alarm yang dimasukkan tak berbunyi. Alhasil, bangun sahur telat beserta akibatnya tidak maksimal didalam makan sahur. Sering muncul pertanyaan kapan waktu yg cermat untuk berhenti makan sahur? Apakah saat masuk waktu imsak ataupun saat azan Subuh berkumandang?

Batas akhir makan serta minum saat sahur bisa merujuk pada Quran Surat Al Baqoroh ayat 187. didalam ayat tersebut dijelaskan bahwa dimulainya puasa saat terbit fajar, ataupun saat waktu Subuh tiba.

”pertaliannya dengan kata imsak, penyebutan nama imsak untuk 10 menit sebelum adzan sungguh tak tepat. karena kata imsak itu artinya mencegah makan serta minum maupun mulai berpuasa. Maka lebih baik nama imsak ini diganti dengan tanbihun, yg berarti hati-hati,”.

Makna kata imsak yg memang berarti telah mulai berpuasa. Padahal saat imsak belum dimulai berpuasa. penerapan nama imsak yg selama ini dibutuhkan kurang tepat. karena saat imsak tiba masih boleh melanjutkan makan serta minum sahur.

”Kalau kata imsak diganti dengan tanbihun, maka jelas selaras antara kata dengan makna. menjadi intinya, masih boleh makan serta minum sekalipun telah imsak. tetapi diusahakan tidak nabrak dengan azan Subuh,”.

Jika azan Subuh telah berkumandang serta telah terdengar adzan tersebut, Ustadz Ali menegaskan makan serta minum sahur perlu dihentikan. Bahkan empat mahdzab sepakat akan hal tersebut. Bahkan makanan yg masih di mulut tetapi sudah azan perlu dimuntahkan.

”sungguh ada hadist shahih yg menjelaskan bolehnya meneruskan makan beserta minum sahur ketika terdengar azan. tetapi setelah diteliti ternyata hadist itu tak ada sangkut pautnya dengan sahur. karena hadist itu di luar Bulan Ramadan,”.

Berdasarkan penjelasan tersebut maka dapat di simpulkan makan beserta minum sahur berakhir saat azan Subuh tiba. seandainya kebetulan masih mengunyah makanan saat azan Subuh telah berkumandang, maka makanan tersebut perlu dimuntahkan.

2. Segera Berbuka Saat Waktu Buka Puasa

Kita direkomendasikan segera berbuka ketika adzan ataupun azan Magrib berkumandang. Ternyata, aturan ini tersedia alasan kesehatannya, lo. Yap, menyegerakan berbuka puasa baik untuk kesehatan tubuh kita. Sebaliknya, bila kita memperlambat berbuka puasa, tersedia tiga efek buruk yang dapat menimpa tubuh kita. Berikut tiga efek buruk dari menangguhkan waktu berbuka puasa.

Gula Darah Semakin Menurun: Makanan yang kita makan akan diolah jadi glukosa oleh tubuh. Glukosa yakni bahan bakar fundamental untuk otak kita. Tak cuma otak, tubuh juga membutuhkan glukosa sebagai sumber energi. Saat berpuasa, gula darah kita akan menurun cukup banyak. hendaknya gula darahnya tidak semakin turun, segera berbuka jikalau waktunya tiba. jikalau kita memperlambat waktu berbuka, gula darah akan semakin menurun. Tubuh pun akan mulai lemas, pusing, tak bisa konsentrasi, berkeringat, gemetar, jantung berdebar, beserta tidak bisa melancarkan aktifitas fisik.

Dehidrasi: Saat berpuasa, kita tidak akan minum selama belasan jam. karena tidak tersedia cairan yang masuk, tubuh dapat mendapati dehidrasi. hendaknya dehidrasinya tidak semakin parah, segera berbuka saat waktunya tiba. Kalau tidak, kita akan menghadapi kekacauan otak. Tak cuma itu, organ tubuh pun akan terganggu. tidak usah berbuka dengan yg berat, air putih ataupun jus telah cukup. Setelah itu, barulah kita dapat makan makanan berat.

Sakit Lambung: Saat berpuasa, asam lambung akan tentang dinding lambung lebih lama daripada lazimnya. Ini akan membangun lambung sakit. hendaknya lambungnya tidak semakin sakit, jangan menangguhkan waktu berbuka puasa. Segera minum air putih beserta makan makanan kaya serat, semacam buah serta sayur. Itulah tiga efek buruk kalau kita memperlambat waktu berbuka puasa.

3. Membaca doa buka puasa

Terdapat sebagian etika yg baik untuk dibuat pada saat melaksanakan berbuka puasa. Salah satunya yakni membaca doa pada waktu berbuka. Terkait lafal doa berbuka puasa, tersedia beberapa versi yang dijelaskan didalam beberapa hadits. Di antaranya hadits riwayat sahabat Mu’adz bin Zuhrah:

كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ : اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

“Rasulullah ketika Berbuka, beliau berdoa: ‘Ya Allah hanya untuk-Mu kami berpuasa dan atas rezeki yang Engkau berikan kami berbuka,” (HR. Abu Daud).

Sedangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah melafalkan doa sebagaimana berikut:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، إِذَا أَفْطَرَ قَالَ : ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

“Rasulullah ketika berbuka, Beliau berdoa: ‘Telah hilang rasa haus dan urat-urat telah basah serta pahala tetap, insyaallah,” (HR. Abu Daud).

Dua lafal doa di atas lazimnya oleh umat islam di Indonesia digabung jadi satu beserta dibaca sebelum berbuka puasa. Lantas, telah tepatkah praktek demikian?

Dalam kitab Fath al-Mu’in dijelaskan bahwa ketentuan doa berbuka puasa yg baik adalah membaca doa sesuai dengan lafal doa didalam hadits riwayat sahabat Mu’adz bin Zuhrah di atas. Sedangkan lafal doa didalam hadits yg diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar ditambahkan ketika seseorang berbuka dengan memakai air. Berikut penjelasan tentang hal ini:

ويسن أن يقول عقب الفطر: اللهم لك صمت، وعلى رزقك أفطرت ويزيد - من أفطر بالماء -: ذهب الظمأ، وابتلت العروق، وثبت الاجر إن شاء الله تعالى.

“Disunnahkan membaca doa setelah selesai berbuka “Allâhumma laka shumtu wa ‘alâ rizqika aftharthu” dan bagi orang yang berbuka dengan air ditambahkan doa: “Dzahabadh dhamâ’u wabtalatl-‘urûqu wa tsabata-l-ajru insyâ-a-Llâh,” (Fath al-Mu’in, juz 2, hal. 279).

tapi demikian, nyaris tak tersedia orang berbuka puasa cuma berupa makanan tanpa minuman, kecuali sungguh-sungguh terdesak. Sehingga, bacaan yg sering kita dapati yaitu penggabungan doa dari hadits tersebut:

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلى رِزْقِكَ أفْطَرْتُ ذَهَبَ الظَّمأُ وابْتَلَّتِ العُرُوقُ وَثَبَتَ الأجْرُ إِنْ شاءَ اللَّهُ تَعالى

Allâhumma laka shumtu wa ‘alâ rizqika afthartu dzahaba-dh-dhama’u wabtalatil ‘urûqu wa tsabatal ajru insyâ-allâh ta‘âlâ

Artinya, “Ya Allah, untuk-Mulah aku berpuasa, atas rezekimulah aku berbuka. Telah sirna rasa dahaga, urat-urat telah basah, dan (semoga) pahala telah ditetapkan, insyaaallah.”

Hal yang sering disalahpahami banyak orang yakni terhadap pelaksanaan membaca doa ini. lazimnya masyarakat membaca doa buka puasa ini sebelum menyantap makanan maupun meminum minuman di saat masuk waktu maghrib. Padahal, cara membaca doa yg paling benar ialah membacanya ketika setelah selesainya berbuka puasa. Hal ini kaya yang dijelaskan didalam kitab Hasyiyah I’anah at-Thalibin:

ـ (وقوله: عقب الفطر) أي عقب ما يحصل به الفطر، لا قبله، ولا عنده

“Maksud dari (membaca doa buka puasa) “setelah berbuka” adalah selesainya berbuka puasa, bukan (dibaca) sebelumnya dan bukan saat berbuka,” (Syekh Abu Bakar Muhammad Syatha, Hasyiyah I’anah at-Thalibin, juz 2, hal. 279).

Salah satu pijakan dalil penempatan membaca doa berbuka dikerjakan setelah selesai berbuka puasa yakni dengan memandang makna yg terkandung di dalam doa berbuka tersebut, khususnya pada doa berbuka yg ditaruh didalam hadits riwayat Abdullah bin Umar di atas yang cuma pantas (al-munasib) diucapkan kala selesai berbuka puasa.

benar-benar tidak bisa dipungkiri bahwa kendatipun dengan membaca doa di atas sebelum berbuka puasa, sudah mendapatkan kesunnahan (husul ashli as-sunnah), tetapi senantiasa yg paling baku yaitu membacanya tatkala selesai berbuka. di dalam kitab Busyra al-Karim dijelaskan:

ويسنّ أن يقول عنده أي عند إرادته والأولى بعده: اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت

“Disunnahkan bagi orang ketika hendak berbuka—tapi yang lebih utama setelah berbuka—membaca doa  “Allâhumma laka shumtu wa ‘alâ rizqika aftharthu,” (Syekh Said bin Muhammad Ba’ali, Busyra al-Karim, hal. 598).

Walhasil, membaca doa berbuka puasa sebaiknya dilancarkan setelah selesai berbuka, hal ini dimaksudkan agar kita mendapatkan kesunnahan yang sempurna (kamal as-sunnah) didalam membaca doa. Semoga amal ibadah puasa kita diberi kelancaran beserta diterima Allah subhanahu wata’ala. Amin yâ rabbal ‘âlamin. Wallahu a’lam.

4. Berbuka dengan yang manis-manis

Agama Islam menyunahkan para umat yang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan untuk berbuka dengan yg manis, yang mampu dikenakan pada konsumsi buah-buahan serta aneka kudapan ringan.

akan tetapi, apa memang alasan dibalik sunah tersebut kalau diamati dari sudut pandang kesehatan? Menurut spesialis kesehatan, selama hampir 14 jam menjalankan ibadah puasa, tubuh tidak mendapatkan asupan cairan beserta sari makanan.

Hal tersebut membawa dampak kadar gula di dalam darah menurun, beserta berisko mempersiapkan tubuh kekurangan sumber energi, di mana menerbitkan kualifikasi lemas pada sejumlah jam menjelang berbuka.

Sebagaimana dikenal, sumber energi pada tubuh manusia dihasilkan dari asupan karbohidrat yg diubah jadi gula oleh insulin. Oleh sebab itu, berbuka puasa dengan makanan maupun minuman yang manis benar-benar dianjurkan, guna menyeimbangkan kembali kadar insulin, sehingga bisa melanjutkan produksi energi.

akan tetapi wajib diingat bahwa tentu tersedia batasan untuk konsumsi makanan beserta minuman yang manis, yakni lima persen dari total jumlah asupan kalori.

Selain itu, sungguh-sungguh tidak disarankan untuk berbuka secara "kalap", maupun langsung minum serta makan di dalam jumlah banyak. Hal ini disebut bisa menyebabkan jantung beserta hati bekerja lebih berat.

Dianjurkan, bahwa sebaiknya minum ataupun makan kudapan manis di dalam porsi sewajarnya, baru kemudian satu maupun dua jam setelahnya mengonsumsi makanan berat.

Walaupun makan serta manis direkomendasikan dikonsumsi selama menjalankan ibadah puasa, tetapi tak berlaku saat sahur. Sebab, hal itu dikarenakan ketika mengonsumsi minum beserta makanan manis secara berlebih, maka kadar gula di dalam darah segera naik.

Hal itu mendorong insulin terus menggenjot produksi energi, sehingga membentuk tubuh terasa cepat lelah. Intinya sederhana, makan apapun, entah itu manis ataupun tidak, senantiasa harus dikontrol.

5. Memberi Makan Pada Orang yang Berbuka

Ramadan yaitu bulan istimewa yang penuh dengan keberkahan serta ampunan. Banyak sekali keutamaan khusus yang sanggup dijumpai dari setiap amal baik yg kamu kerjakan selama di bulan Ramadan ini. Ya, setiap amalan yang kamu kerjakan di bulan Ramadan ini, sekecil apapun amalan itu akan memperoleh pahala yang akan dilipatgandakan.

Salah satu amal baik yang sering dijalankan oleh beberapa besar orang di bulan Ramadan ini yakni memberi makanan buka puasa kepada orang lain. kedapatan beberapa keutamaan memberi makanan buka puasa di bulan Ramadan ini. Allah Subhanahu Wa Ta'ala pun turut menjanjikan ganjaran yang luar umum bagi mereka yg memberi makanan buka puasa.

Di didalam Islam, menganjurkan umatnya untuk berbagi makanan berbuka baik didalam bentuk makanan ataupun minuman. Hal ini ialah salah satu bentuk kebaikan berkenaan orang-orang yang berpuasa.

Bulan Ramadhan benar-benar kesempatan terbaik untuk beramal. Bulan Ramadhan yaitu kesempatan menuai pahala melimpah. Banyak amalan yang mampu dilangsungkan ketika itu agar menuai ganjaran yang luar biasa. Dengan memberi sesuap nasi, secangkir teh, secuil kurma ataupun snack yang menggiurkan, itu pun dapat jadi ladang pahala. Maka telah sepantasnya kesempatan tersebut tidak terlewatkan.

Inilah janji pahala yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.”

Al Munawi rahimahullah menjelaskan bahwa memberi makan buka puasa di sini boleh jadi dengan makan malam, atau dengan kurma. Jika tidak bisa dengan itu, maka bisa pula dengan seteguk air.

Ath Thobari rahimahullah menerangkan, “Barangsiapa yang menolong seorang mukmin dalam beramal kebaikan, maka orang yang menolong tersebut akan mendapatkan pahala semisal pelaku kebaikan tadi. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar bahwa orang yang mempersiapkan segala perlengkapan perang bagi orang yang ingin berperang, maka ia akan mendapatkan pahala berperang. Begitu pula orang yang memberi makan buka puasa atau memberi kekuatan melalui konsumsi makanan bagi orang yang berpuasa, maka ia pun akan mendapatkan pahala berpuasa.”

Sungguh luar biasa pahala yang diiming-imingi.

Di antara keutamaan lainnya bagi orang yg memberi makan berbuka yaitu keutamaan yang diraih dari do’a orang yg menyantap makanan berbuka. andaikan orang yg menyantap makanan mendoakan si pemberi makanan, maka sebenarnya itu adalah do’a yg terkabulkan. karena sungguh do’a orang yg berbuka puasa ialah do’a yang mustajab. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terdzolimi.” Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya do’a karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri.

Justru jikalau orang yg menyantap makanan tadi mendo’akan sebagaimana do’a yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam praktekkan, maka sebenarnya rizki yang kita keluarkan akan semakin barokah. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi minum, beliau pun mengusung kepalanya ke langit beserta mengucapkan,

اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى

“Allahumma ath’im man ath’amanii wa asqi man asqoonii” [Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku]

Tak lupa pula, ketika kita memberi makan berbuka, hendaklah memilah orang yang terbaik maupun orang yg sholih. Carilah orang-orang yang sholih yang sanggup mendo’akan kita ketika mereka berbuka. karena ingatlah harta terbaik yakni di sisi orang yg sholih. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menceritakan pada ‘Amru bin Al ‘Ash,

يَا عَمْرُو نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ

“Wahai Amru, sebaik-baik harta adalah harta di tangan hamba yang Shalih.”

Dengan banyak berderma melalui memberi makan berbuka dibarengi dengan berpuasa itulah jalan menuju surga. Dari ‘Ali, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا ». فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ »

“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari di waktu manusia pada tidur.”

Seorang yang semangat dalam kebaikan pun berujar, “Seandainya saya memiliki kelebihan rizki, di samping puasa, saya pun akan memberi makan berbuka. Saya tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut. Sungguh pahala melimpah seperti ini tidak akan saya sia-siakan. Mudah-mudahan Allah pun memudahkan hal ini.”

6. Memperbanyak ibadah dan berderma, dan masih banyak lagi

Ada alasan kenapa kita diperintah banyak sedekah di bulan Ramadhan. Suri teladan kita, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan kepada kita untuk banyak bersedekah beserta berderma di bulan Ramadhan. Bahkan tersedia berbagai faedah sekiranya seseorang bertambah semangat bersedekah ketika berpuasa di bulan penuh berkah tersebut.

Dalam shahihain, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar bersedekah. Semangat beliau dalam bersedekah lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al-Qur’an kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” (HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307)

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Al juud berarti rajin dan banyak memberi (berderma)” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 291). Jadi maksud hadits adalah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– rajin memberi sedekah pada orang lain di bulan Ramadhan.

Ibnu Rajab juga menyebutkan, “Pada diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkumpul berbagai macam sifat dermawan. Beliau gemar berderma dengan ilmu dan harta beliau. Beliau juga mengorbankan jiwa untuk memperjuangkan agamanya. Beliau juga memberikan manfaat pada umat dengan menempuh berbagai macam cara. Bentuk kemanfaatan yang beliau berikan adalah dengan memberi makan pada orang yang lapar, menasihati orang yang bodoh, memenuhi hajat dan mengangkat kesulitan orang yang butuh.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 293).

Di halaman lainnya dari kitab Lathaif Al-Ma’arif (hlm. 295), semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berderma lebih besar lagi di bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lainnya.

Apa yang mendorong beliau lebih bersemangat seperti itu?

1- Bulan Ramadhan adalah waktu yang mulia dan pahala berlipat ganda pada bulan tersebut.

2- Rajin berderma pada bulan Ramadhan berarti membantu orang yang berpuasa, orang yang melakukan shalat malam dan orang yang berdzikir supaya mereka mudah dalam beramal. Orang yang membantu di sini akan mendapatkan pahala seperti pahala mereka yang beramal. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keutamaan orang yang memberi makan buka puasa,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192, dari Zaid bin Khalid Al-Juhani. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

3- Di bulan Ramadhan, Allah juga berderma dengan memberikan rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka, lebih-lebih lagi di malam Lailatul Qadar.

4- Menggabungkan antara puasa dan sedekah adalah sebab seseorang dimudahkan masuk surga. Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut,

عَنْ عَلِىٍّ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا ». فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ »

Dari ‘Ali, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di surga ada kamar yang luarnya bisa dilihat dari dalamnya dan dalamnya bisa dilihat dari luarnya.” Lantas orang Arab Badui ketika mendengar hal itu langsung berdiri dan berkata, “Untuk siapa keistimewaan-keistimewaan tersebut, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Itu disediakan bagi orang yang berkata yang baik, memberi makan (kepada orang yang butuh), rajin berpuasa, dan melakukan shalat di malam hari ketika manusia terlelap tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1984 dan Ahmad 1: 155. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Kata Ibnu Rajab Al Hambali, sifat-sifat yang disebutkan di atas semuanya terkumpul di bulan Ramadhan. Karena orang beriman akan mengumpulkan pada dirinya amalan puasa, shalat malam, sedekah dan berkata yang baik di mana ketika berpuasa dilarang berkata kotor dan sia-sia. Lihat Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 298.

5- Menggabungkan antara sedekah dan puasa adalah sebab kemudahan meraih ampunan dosa dan selamat dari siksa neraka. Lebih-lebih jika kedua amalan tersebut ditambah dengan amalan shalat malam.

Disebutkan bahwa puasa adalah tameng (pelindung) dari siksa neraka,

الصِّيَامُ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْقِتَالِ

“Puasa adalah pelindung dari neraka seperti tameng salah seorang dari kalian ketika ingin berlindung dari pembunuhan.” (HR. Ibnu Majah no. 1639 dan An Nasai no. 2232. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Mengenai sedekah dan shalat malam disebutkan dalam hadits,

وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَصَلاَةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ

“Sedekah itu memadamkan dosa sebagaimana api dapat dipadamkan dengan air, begitu pula shalat seseorang selepas tengah malam.” (HR. Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 3973. Abu Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

6- Dalam puasa pasti ada cacat dan kekurangan, sedekah itulah yang menutupi kekurangan tersebut. Oleh karenanya di akhir Ramadhan, kaum muslimin disyari’atkan menunaikan zakat fitrah. Tujuannya adalah menyucikan orang yang berpuasa. Disebutkan dalam hadits, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan dari kata-kata kotor, juga untuk memberi makan kepada orang miskin.” (HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

7- Disyari’atkan banyak berderma ketika puasa seperti saat memberi makan buka puasa adalah supaya orang kaya dapat merasakan orang yang biasa menderita lapar sehingga mereka pun dapat membantu orang yang sedang kelaparan. Oleh karenanya sebagian ulama teladan di masa silam ditanya, “Kenapa kita diperintahkan untuk berpuasa?” Jawab mereka, “Supaya yang kaya dapat merasakan penderitaan orang yang lapar. Itu supaya ia tidak melupakan deritanya orang yang lapar.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 300)

Yang dicontohkan oleh para ulama di antaranya ‘Abdullah bin Al-Mubarak dan Al-Hasan Al-Bashri, mereka biasa memberi makan pada orang lain, padahal sedang berpuasa (sunnah).

Demikian tujuh faedah yang disampaikan oleh Ibnu Rajab yang mendorong kita supaya rajin membantu, memberi dan berderma di bulan Ramadhan. Sehingga itulah mengapa bulan Ramadhan disebut bulan muwasaah, yaitu bulan yang diperintahkan banyak berderma.

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Siapa yang tidak bisa menggapai derajat itsar (mendahulukan orang lain dari diri sendiri, pen.), maka jangan sampai ia tidak mencapai derajat orang yang rajin membantu orang lain (muwasah).” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 300)

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku sangat senang ketika melihat ada yang bertambah semangat mengulurkan tangan membantu orang lain di bulan Ramadhan karena meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga karena manusia saat puasa sangat-sangat membutuhkan bantuan di mana mereka telah tersibukkan dengan puasa dan shalat sehingga sulit untuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka. Contoh ulama yang seperti itu adalah Al-Qadhi Abu Ya’la dan ulama Hambali lainnya.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 301)

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk rajin berbuat kebajikan di bulan Ramadhan.

Hal yg Makruh Saat Berpuasa

Makruh yaitu hal-hal yg sebaiknya tidak digelar.

1. Berbekam
2. Mengulum sesuatu didalam mulut
3. menikmati makanan dengan lidah, contohnya saat memasak serta mencicipnya
4. menggunakan wangi-wangian
5. Bersiwak maupun menggosok gigi saat terkena terik matahari
6. Berkumur di luar kumur wudhu

Hal-hal yang Memperbolehkan untuk tidak Berpuasa maupun Membatalkan Puasa

Puasa terutamanya puasa Ramadhan benar-benar wajib hukumnya, tetapi tersedia beberapa hal yg memperbolehkan kita untuk tidak berpuasa ataupun membatalkan puasa. Akan akan tetapi diwajibkan untuk mengeluarkan fidya ataupun mengganti puasa tersebut di lain hari.

1. didalam perjalanan jauh
2. Orang tua berusia lanjut
3. didalam keadaan sakit
4. Wanita menyusui beserta hamil

Hikmah Puasa Ramadhan

1. Melatih kesabaran
2. mempersiapkan akhlaqul karimah
3. Mempengaruhi pra syarat fisik jadi sehat
4. mendatangkan rasa syukur
5. meluaskan ketakwaan didalam diri seseorang
6. Membersihkan diri dari dosa-dosa-d
7. Membiasakan diri hidup hemat

Itulah sebagian hal berkenaan puasa Ramadhan, mulai dari pengertian puasa Ramadhan hingga hikmah yang akan didengungkan dan didapatkan ketika kita menjalankannya. Ramadhan adalah bulan suci yang benar-benar dinanti-nantikan karena mempunyai beribu-ribu manfaat.

Jangan sampai kamu tidak menunaikan kebaikan di bulan Ramadhan sebab bulan kemenangan ini cuma datang setahun sekali.
Home Jasa Content Placement